SISTEM PENYIMPANAN ARSIP
Sistem
penyimpanan arsip adalah sistem pengelolaan dan penemuan kembali arsip
berdasarkan pedoman yang telah dipilih untuk meningkatkan efektivitas dan
efisiensi penggunaan waktu, tempat, tenaga, dan biaya.
Manfaat
sistem penyimpanan arsip
ü Arsip
dapat tertata dengan rapi
ü Ruang
kerja lebih rapid an efisien karena tidak banyak tumpukan kertas yang memenuhi
ruangan
ü Arsip
tidak hilang, sehingga informasinya dapat terpelihara
ü Mudah
dalam perawatan
ü Mudah
mencari bila sewaktu – waktu dibutuhkan
ü Mudah
dalam penyusutannya karena dapat diketahui mana arsip yang memang sudah layak
untuk dibuang dan mana yang tidak
Ada
beberapa sistem penyimpanan surat / arsip yang banyak digunakan di kantor –
kantor, baik pemerintahan maupun swasta yaitu sebagai berikut :
1. Sistem
abjad ( alphabetical filling system)
2. Sistem
subjek ( subjectical filling system )
3. Sistem
tanggal ( chronological filling system )
4. Sistem
wilayah ( geographical filling system )
5. Sistem
nomor ( numerical filling system )
Disamping
kelima sistem tersebut banyak organisasi atau instansi yang menerapkan sistem
kombinasi.Misalnya sistem subjek dipadu dengan sistem abjad, sistem abjad
dipadu dengan sistem tanggal dsb.
Dalam
pelaksanaan sistem penyimpanan ( filling system ), sering ditemui istilah –
istilah yang biasa digunakan antara lain :
v Caption ( kata tangkap )
Caption
( kata tangkap ) adalah suatu nama atau nomor yang digunakan untuk
mengidentifikasi dokumen / arsip untuk tujuan penyimpanan.
1. Pada
sistem abjad, kata tangkapnya adalah nama pengirim (surat masuk ) yaitu nama
badan – badan pemerintah, lembaga – lembaga Negara, badan – badan swasta.
Maupun nama – nama individu atau nama orang / badan / organisasi yang dituju (
surat keluar )
2. Pada
sistem subjek, kata tangkapnya adalah nama masalah / perihal / isi surat.
3. Pada
sistem tanggal, kata tangkapnya adalah tanggal surat.
4. Pada
sistem wilayah, kata tangkapnya adalah nama tempat asal surat ( surat masuk )
atau nama tempat alamat yang dituju ( surat keluar )
5. Pada
sistem nomor, kata tangkapnya adalah angka atau nomor tertentu sesuai aturan
sistem nomor.
6. Jika
sebuah dokumen / arsip dapat diminta melalui beberapa kata tangkap, maka
dokumen / arsip tersebut disimpan menurut kata tangkap yang terpenting,
sedangkan untuk kata tangkap – kata tangkap yang lain jika perlu dibuatkan
kartu tunjuk silang.
v Mengindeks
Mengindeks
adalah kegiatan menentukan tanda pengenal arsip untuk memudahkan penemuan
kembali. Indeks diambil dari kata tangkap
(caption) terpenting dari surat yang di maksud
sesuai dengan sistem penyimpanan.
1. Mengindeks
dalam sistem abjad berarti kegiatan membagi nama / orang / badan / organisasi
menjadi beberapa unit
2. Mengindeks
dalam sistem subjek berarti menafsirkan masalah surat / warkat yang akan
disimpan dan mencocokkan dengan daftar klasifikasi, kemudian mencatatkan pada
kartu indeks.
3. Mengindeks
dalam sistem tanggal berarti menentukan tanggal surat menjadi beberapa unit,
yaitu tanggal, bulan, dan tahun, serta mencatatnya dalam kartu indeks.
4. Mengindeks
dalam sistem wilayah berarti mencocokkan nama tempat asal / tujuan surat dengan
daftar klasifikasi masalah dan mencatat dalam kartu indeks.
5. Mengindeks
dalam sistem nomor berarti menentukan nomor arsip untuk keperluan penempatan
pada tempat penyimpanan.
v Kode
Kode
adalah tanda – tanda tertentu sebagai pengenal arsip yang diperoleh dari
indeks.Fungsinya untuk penyimpanan dan penemuan kembali arsip agar lebih cepat
juga untuk ditulis pada tempat – tempat penyimpanan.
v Daftar
Klasifikasi
Adalah
daftar yang berisi tentang pengelompokan arsip berdasrkan nama, masalah,
wilayah, nomor, atau lain sebagainya.
Contoh
kartu indeks
|
JUDUL SURAT : ANDINI
NOMOR SURAT : 021/MRT/07
TANGGAL SURAT : 15 MARET 2017
KODE SURAT : KEPEGAWAIAN
CUTI
|
|
AN
|
Kartu
indeks adalah kartu yang digunakan sebagai alat bantu yang memudahkan penemuan
kembali arsip dengan cepat dan tepat.
v Jenis
– jenis peralatan kearsipan
Peralatan
kearsipan adalah alat atau sarana yang digunakan dalam bidang kearsipan.
Fungsi
peralatan kearsipan antara lain :
1. Sebagai
sarana penyimpanan arsip
2. Sebagai
alat bantu untuk mempercepat, meringankan,dan mempermudah pekerjaan di bidang
kearsipan.
3. Sebagai
alat pelindung arsip dari bahaya kerusakan sehingga arsip tahan lama.
3
istilah penting yang berkaitan dengan penyimpanan arsip
1. Pengarsipan
horizontal, yaitu penempatan atau penyimpanan arsip / dokumen / map dilakukan
secara mendatar ( horizontal )
2. Pengarsipan
vertical yaitu penempatan atau penyimpanan arsip / dokumen / map dilakukan
secara tegak lurus ( vertical ) dimana arsip disusun berderet ke belakang
3. Pengarsipan
lateral yaitu penempatan atau penyimpanan arsip / dokumen / map dilakukan
secara berdiri ( lateral ) dimana arsip disusun berderet menyamping.
Macam
– macam peralatan kearsipan
1. Filling
cabinet
2. Guide
3. Folder
/ map
4. Rak
sortir
5. Kartu
indeks
1. Filling
cabinet
Yaitu
lemari arsip yang terdiri dari beberapa laci, antara 1-6 laci tetapi yang
paling banyak digunakan adalah 4 dan 5 laci.Setiap laci dapat menampung kurang
lebih 5.000 lembar.Disusun berdiri tegak lurus (vertical) berderet ke belakang.
Arsip ( berkas )yang disimpan bersifat aktif.
Tipe
– tipe filling cabinet
A. Tipe
drawer
Tempat menyimpan arsip berbentuk
lemari dari 2 laci, 3 laci, sampai 4 laci.
B. Tipe
lateral
Lemari arsip dengan sistem
penyimpanan vertical dan sebelumnya dimasukan kedalam ordner dahulu seperti
lemari pakaian terbuat dari baja.
C. Tipe
rotary
Semacam filling cabinet tetapi
penyimpanan arsip dilakukan secara berputar dan arsip disimpan secara lateral.
2. Guide
Yaitu
lembaran kertas tebal atau karton yang digunakan sebagai penunjuk dan atau sekat
/ pemisah dalam penyimpanan arsip.
Guide
terdiri dari 2 bagian :
a. Tab
guide : yaitu bagian yang menonjol untuk menuliskan kode – kode, tanda, atau
indeks ( pengelompokan ) arsip
b. Badan
guide fungsinya untuk menopang arsip – arsip yang ada di belakangnya.
Guide dibuat sesuai dengan ukuran
arsip.
Posisi tab guide
·
Posisi pertama yaitu :
tab guide terletak pada posisi atas sebelah kiri, untuk menuliskan kelompok
utama ( main subject )
·
Guide kedua yaitu : tab
guide terletak pda posisi atas bagian tengah, untuk menuliskan kelompok sekunder ( sub subject )
·
Guide ke 3 yaitu : tab
guide terletak pada posisi atas sebelah kanan, untuk menuliskan kelompok
tersier ( sub – sub subject ) atau lebih khusus lagi .
3. Folder
( map )
Ø Stofmap
folio yaitu : map yang terdapat daun penutup pada setiap sisinya. Daun ini
berfungsi untuk menopang surat yang ada di dalamnya agar tidak jatuh .
Ø Map
snelhecter yaitu : map yang mempunyai penjepit di tengah map dan tidak
mempunyai daun penutup. Arsip yang disimpan berupa arsip inaktif
Ø Ordner
adalah map besar dengan ukuran punggung sekitar 5 cm yang didalamnya terdapat
besi penjepit ordner dapat menyimpan 500 lembar arsip.
4. Rak
sortir
Adalah
rak / alat yang digunakan untuk memisahkan surat / warkat yang diterima,
diproses, dikirimkan, dan disimpan ke dalam folder masing – masing.
5. Kartu
indeks
Adalah
kartu yang berisi identitas suatu arsip / warkat yang disimpan, gunanya sebagai
alat bantu untuk menemukan arsip. Ukurannya 12,5 cm x 7,5 cm
Kartu
indeks mencatat tentang:
ü Judul
/ nama surat
ü Nomor
surat
ü Hal
surat
ü Tanggal
surat
ü Kode
surat
ü Kode
kartu indeks
Filling
sistem adalah suatu rangkaian kerja yang teratur yang dapat dijadikan pedoman
untuk menyimpan arsip sehingga saat diperlukan cepat dan tepat ditemukan.
Filling
sistem sering disebut dengan sitem kearsipan atau administrasi kearsipan /
manajemen kearsipan.
Tujuan
filling sistem
1. Menghemat
waktu : maksudnya cepat dan tepat dalam penyimpanan dan penemuan kembali arsip
2. Menghemat
tempat : maksudnya dengan menggunakan peralatan kearsipan yang tepat, arsip
yang bernilai guna akan tersimpan dan tertata dengan baik
3. Menghemat
tenaga : maksudnya dalam penyimpanan dan penemuan kembali arsip tidak
menimbulkan banyak gerakan
Macam
– macam filling sistem
1. Abjad
2. Tanggal
3. Wilayah
4. Masalah
5. Nomor
: ada 2 yaitu : dewey dan terminal digit
Prosedur
filling
1. Memeriksa
tanda pelepas ( release mark )
Setiap
warkat yang akan dimasukan kedalam file harus diperiksa apakah sudah mendapat
tanda pelepas ( release mark ) atau belum.
Apabila
belum, petugas harus menanyakan kepada pimpinan, bila warkat telah mendapat
release mark berarti warkat tersebut telah selesai diproses dan boleh
diarsipkan. Tanda pelepas dapat berupa disposisi yang tegas & jelas seperti
file, Dep ( depooner =simpan), simpan, atau parap pimpinan. ( biasanya ujung
atas kanan surat )
2. Membaca
warkat untuk menentukan judul surat ( caption )
Surat
msuk dan keluar, sebelum disimpan terlebih dahulu dibaca dengan teliti maksud
atau persoalannya. Untuk surat masuk yang menjadi captionnya adalah nama dari
pengirim surat, sedangkan untuk surat keluar yang menjadi captionnya adalah
nama dari tujuan surat.
3. Mengindeks
dan pemberian kode
Kegiatan
ini memudahkan penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang disimpan.
4. Pembuatan
lembar petunjuk silang
Diperlukan
untuk kata tangkap / judul surat yang lebih dari satu
5. Pembuatan
follow up slipt
Disiapkan
untuk warkat-warkat yang memerlukan tindak lanjut dikemudian hari.
6. Routing
slipt
Diperlukan
bila satu surat harus / disampaikan kepada lebih dari satu unit / pejabat
contohnya lembar disposisi dan kartu kendali
7. Penggolongan
warkat ( penyortiran )
8. Penyimpanan
warkat
Warkat
yang telah disortir dimasukan kedalam folder masing – masing dan dimasukan
kedalam filling cabinet.
A.
Filling sistem abjad
Adalah
sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip berdasarkan abjad.
Pada
sistem abjad juduk surat ( caption ) untuk surat masuk diambil dari nama
pengirim surat dan surat keluar diambil dari nama tujuan surat.
Istilah
– istilah dalam filling sistem abjad
1.
Judul surat ( caption )
Yaitu suatu nama
/ nomor yang digunakan untk mengidentifikasi arsip untuk tujuan penyimpanan
2.
Kode
Adalah tanda /
symbol yang dibubuhkan pada lembaran warkat. Kode ditulis dengan pensil di
kanan atas surat.
3.
Mengindeks
Adalah kegiatan
membagi judul / caption atas beberapa unit
4.
Unit
Adalah bagian
terkecil dari suatu judul / caption
Peraturan mengindeks dibedakan atas
a)
Mengindeks nama orang
Indonesia
1)
Nama tunggal
2)
Nama ganda yaitu nama
yang kalimatnya lebih dari 1. Dan dibalik saat mengindeks contoh :
Indra binangkit
= binangkit indra
Unit 1 =
binangkit
Unit 2 = indra
Untuk yang
terdiri dari 3 kata
Indra binangkit
satria = satria indra binangkit
Unit 1 = satria
Unit 2 = indra
Unit 3 =
binangkit
3)
Nama keluarga, suku,
dan marga
Nama orang yag
diikuti dengan nama keluarga atau nama suku / marga di indeks berdasarkan nama
keluarga, suku, atau marganya.
Contoh : abdul
haris nasution = nasution haris abdul
Unit 1 =
nasution
Unit 2 = haris
Unit 3 = abdul
Rani septiani
rahayu sihombing = sihombing rahayu rani septiani
Unit 1 =
sihombing
Unit 2 = rahayu
Unit 3 = rani
Unit 4 =
septiani
*Pengkodean diambil dua huruf dari
unit 1
*mengindeks nama perusahaan luar
negri
Contoh : the golden bridge = kata “the “ nya diabaikan dalam pengkodean
Jadi the golden bridge kode : Go
4)
Nama singkatan
Nama yang
memaknai singkatan di depan / dibelakang yang diutamakan adalah nama jelasnya.
Contoh : B.J
habibie = habibie B.J
Unit 1= habibie
Unit 2 = B.
Unit 3 = J
Andri andriana
W.W = andriana andri w.W
Unit 1 =
andriana
Unit 2 = andri
Unit 3 = w
Unit 4 = W
5)
Nama yang memakai gelar
( gelar kebangsawanan, keagamaan, kesarjanaan, dan kepangkatan ) yang diindeks
adalah nama asli, marga / keluarga. Sedangkan gelar di indeks pada unit
terakhir dalam tanda kurung. Tetapi bila gelar itu di ikuti nama tunggal, maka
gelarnya ikut diindeks
Contoh jenis
nama tunggal
sultan
hamengkubuwono = hamengkubuwono sultan
Contoh nama
ganda
Raden Ajeng
Ratna Kartilawa = kartilawa ratna (RA)
Contoh gelar
kepangkatan
Prof. Dr. Muhtar
Alatas P.hd, M.Hum = Alatas Muhtar ( Prof.Dr.P.hd. M.Hum )
Contoh gelar
keagamaan
K.H Ali yafi =
yafi Ali ( K.H )
6)
Nama yang memakai kata
“bin” atau “binti” atau “AL” maka kata tersebut diindeks menjadi satu dalam
satu unit. Tetapi diabaikan dalam penyusunan kode abjadnya.
Contoh : Hasan
bin Ibrahim = bin Ibrahim hasan
Unit 1 = bin
Ibrahim
Unit 2 = hasan
Kode = Ib ( dari
kata Ibrahim )
b)
Peraturan mengindeks
dan memberi kode nama perusahaan
1)
Nama perusahaan / toko
/ kantor
Yang diutamakan
adalah nama yang dipentingkannya baru diikuti jenis badan hukum ( kegiatannya )
Contoh : PT Pos
Indonesia = Pos Indonesia PT
Toko Sepatu Bata
= Bata Toko Sepatu
*nama asli
perusahaan tidak perlu diindeks
2)
Nama bank / perusahaan
yang disingkat, harus dipanjangkan terlebih dahulu kemudian di indeks
sebagaimana nama itu ditulis.
Contoh : BRI =
Bank Rakyat Indonesia
PDAM = Perusahaan Daerah Air Minum
Unit 1 = Bank
Unit 2 = Rakyat
Unit 3 =
Indonesia
3)
Nama perusahaan / toko
yang terdiri dari angka sebagai bagian dari nama perusahaan di indeks. Angka
itu sebagai satu unit. Penulisan angka diganti dengan huruf. Contoh :
Toko 234 = toko
dua tiga empat
Unit 1 = toko
Unit 2 = dua
tiga empat
PT 005 =
perseroan terbatas nol nol lima
Unit 1 =
perseroan
Unit 2 =
terbatas
Unit 3 = nol nol
lima
4)
Nama perusahaan yang menggunakan
huruf dan bukan merupakan singkatan maka di indeks sebagai unit tersendiri.
Contoh :
Toko ABC = A B C
toko
Unit 1 = A
Unit 2 = B
Unit 3 = C
Unit 4 = toko
Kode nya : Ab
5)
Nama perusahaan yang
memakai tanda penghubung seperti dari, dan, kepada, kop, and, dan sebagainya
tidak diindahkan dalam mengindeks dan ditempatkan diantara dua tanda kurung.
Contoh :
Andi & motor
service = Andi (&) motor service
Unit 1 = Andi
(&)
Unit 2 = motor
Unit 3 = service
Kode = An
Modern fashion
and make up = modern fashion ( and ) make up
Unit 1= modern
fashion (and)
Unit 2 = make up
6)
Nama badan usaha yang
bergerak di bidang pendidikan seperti sekolah, akademik, universitas,
institute, dll. Diletakan pada unit terakhir. Bila nama itu lebih terkenal
singkatannya diberi lembar petunjuk silang. Contoh :
SMK N.P Panjang
= menengah kejuruan negri padang panjang (sek)
Unit 1 =
Menengah
Unit 2 =
Kejuruan
Unit 3 = Negri
Unit 4 = padang
panjang (sek )
Kode : Me
SMU N padang =
Menengah Umum negri padang (sek)
Unit 1 =
menengah
Unit 2 = Umum
Unit 3 = negri
Unit 4 = padang
(sek)
Kode : Me
c)
Peraturan mengindeks
dan memberi kode instansi pemerintah
Ø Nama
instansi / lembaga pemerintah yang di indeks adalah nama pokok dari instansi
tersebut, sedangkan sifat dari organisasi itu ditempatkan diantara dua tanda
kurung. Tetapi bila sifat organisasi itu diiringi nama tunggal, maka sifat
organisasinya ikut diindeks serta diutamakan nama pokok organisasi tersebut.
Contoh :
Dep. Dalam Negri
= Dalam Negri ( Departemen )
kode : Da
Lembaga Adm.
Negara = Administrasi Negara lembaga
kode : Ad
Ø Nama
instansi Negara asing diindeks unit politik Negara yang bersangkutan,
Contoh :
U.S.A = United
State America kode : Un
Republik Pakistan
= Pakistan Republik kode : Pa
d)
Peraturan mengindeks
dan memberi kode nama organisasi dan perhimpunan.
Nama organisasi
/ perhimpunan diindeks kata pengenal terpenting dari nama itu dan sifat
organisasi seperti : persatuan, himpunan, partai, dll, ditempatkan pada unit
terakhir. Contoh :
PGRI = Perguruan
Republik Indonesia Persatuan Kode : Pe
ISWI = Sarjana Wanita
Indonesia Ikatan Kode : Sa
Merancang
daftar klasfikasi
Daftar
klasifikasi dibuat berdasarkan ( mengacu )
atas hasil pengindekan ( kodenya) kemudian di susun sesaui ketentuan.
Jika sistem abjad maka disusun berdasarkan abjad, dan seterusnya.Contoh :
Andi firmansyah = Firmansyah andi
kode : Fi
Ari firdatun = firdatun ari kode :
Fi
PT mulya abadi = mulya abadi PT kode : Mu
Toko sepatu kurnia = kurnia toko sepatu kode : Ku
Daftar
klasifikasi
|
Kode
|
Uraian
|
|
|
F
|
Fi
|
Firdatun ari
|
|
|
Firmansyah
andi
|
|
|
K
|
Ku
|
Kurnia toko
sepatu
|
|
M
|
Mu
|
Mulya abadi PT
|
Peralatan
dan perlengkapan untuk sistem abjad :
1.
Filling cabinet
2.
Guide = 26 sesuai abjad = 1 guide = 26 folder
3.
Folder = 26 guide x 26
folder
4.
Rak sortir
5.
Kartu indeks
Cara
mengarsipkan surat dengan sistem abjad menggunakan buku agenda tunggal
1. Urutkan
surat berdasarkan tanggal surat
2. Catat
kedalam buku agenda tunggal
3. Indeks
dan kode surat serta buat daftar klasifikasinya
4. Pisahkan
surat masuk dan surat keluar
Cara
membedakan surat masuk dan keluar
Ø Surat
masuk ; kop surat berbeda – beda dan alamat dalamnya sama
Ø Surat
keluar : kop surat sama dan alamat dalamnya yang berbeda – beda.
5. Berilah
pembatas surat masuk dan keluar memakai HVS berwarna
6. Kelompokan dan susun surat berdasarkan daftar
klasifikasi
7. Berilah
pembatas hvs warna dan multi tab yang
sudah bertuliskan kode arsip pada masing – masing kelompok abjad.
Cara
mengarsipkan surat dengan sistem abjad menggunakan buku agenda kembar
1. Pisahkan
surat masuk dan surat keluar
2. Susun
berdasarkan tanggal surat
3. Catat
kedalam buku agenda kembar
4. Mengindeks,
mengkode, dan membuat daftar klasifikasi
5. Selanjutnya
sma dengan langkah mengarsipkan surat pada buku agenda kembar
SISTEM
TANGGAL ( FILLING SISTEM TANGGAL )
Sitem
tanggal adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang disusun berdasarkan
tahun, bulan, tanggal arsip dibuat. Sistem ini seringkali menggunakan alat
bantu lain yaitu : kartu indeks, karena orang sangat sulit untuk mengingat
tanggal kapan surat tersebut dibuat.
Daftar
klasifikasi tanggal
Tahun
( tanggal utama ) : sebagai kode laci
Bulan
( sub tanggal ) : sebagai kode guide
Tanggal
( sub – sub tanggal ) : sebagai hanging folder
Jenis
– jenis peralatan dan perlengkapan dalam filling sistem tanggal
a)
Filling cabinet
Pada umumnya
satu laci filling cabinet menyimpan arsip untuk satu tahun.Tetapi bisa saja 1
laci untuk menyimpan arsip 2 – 3 bulan, jika arsip yang disimpan dalam jumlah
yang banyak.
b)
Guide
Jika 1 laci
memuat arsip 1 tahun maka 1 laci
memerlukan guide sebanyak 12 ( dalam 1 tahun ada 12 bulan ). Tetapi jika 1 laci
memuat 2 – 3 bulan maka diperlukan guide sebanyak bulan tersebut.
c)
Hanging folder
Jumlah hanging
folder yang dibutuhkan adalah sebanyak jumlah hari dalam 1 tahun ( 365 /366
hari jika tahun kabisat. Tetapi jika 1 laci hanya untuk 2 – 3 bulan maka hanya
diperlukan hanging folder sebanyak jumlah hari dari 2 – 3 bulan tersebut.
d)
Kartu indeks
Kartu indeks diperlukan
sebanyak jumlah dari jenis arsip yang disimpan.
Prosedur
penyimpanan arsip dengan filling sistem tanggal
a)
Memeriksa surat /
berkas
Melihat tanda –
tanda perintah penyimpanan dan menentukan identitas surat, yaitu tanggal surat
tersebut dibuat.
b)
Mengindeks
Membagi tanggal
menjadi tanggal utama, sub tanggal, sub – sub tanggal
Contoh : surat
tertanggal 1 februari 2009 terdiri dari tanggal utama ( 2009 ), sub tanggal (
februari ), sub – sub tanggal ( 1 )
c)
Mengkode
Memberi kode
pada surat dengan kode tanggal
|
1
februari 2009
|
|
Kop surat
|
d)
Menyortir
Tergantung
situasi dan kondisi
e)
menempatkan
tempatkan arsip sesuai
dengan kode dan klasifikasi
prosedur
penemuan kembali arsip dengan sistem tanggal
a)
tentukan identitas
surat berapa tanggal surat tersebut dibuat
b)
cari arsip tersebut
misalnya di laci berkode 2009 di belakang guide februari dan didalam hanging
folder 3
c)
lihat arsip tersebut
apakah benar sesuai dengan yang dicari ? jika ya, ambil arsip tersebut tukar
dengan lembar pinjam arsip ( lembar 1 )
d)
berikan arsip tersebut
kepada peminjam berikut dengan lembar pinjam arsip ( lembar 2 )
e)
simpan lembar pinjam
arsip ( lembar 3 ) kedalam tickler file
langkah
menemukan arsip jika identitas tanggal tidak diketahui adalah sebagai berikut :
a) tentukan
identitas arsip berupa nama orang / badan / perusahaan
contoh
: herlina diminta untuk mencari arsip dari Agus Harton yang tidak diketahui
tanggal pembuatannya.
b) Indekslah
nama tersebut
Agus
Hartono = Hartono Agus kode nya Ha
c) Tentukan
kode nya
Hartono
Agus kode nya Ha
d) Carilah
kartu indeks di dalam laci berkode A – H di belakang guide berkode H di dalam
hanging folder berkode Ha
e) Lihatlah
kartu indeks tersebut dan lihat kode surat
f) Ambil
arsip pada laci
g) Jika
arsip tersebut benar
h) Berikan
kepada peminjam berikkut lembar pinjam arsip ( lembar 2 )
i) Simpan
lembar pinjam arsip ( lembar 3) ke dalam tickler file.
·
Januari disimpan paling
belakang dan desember paling depan
·
Tanggal 1 disimpan
paling belakang dan tanggal 31 disimpan paling depan
Cara
mengarsipkan surat dengan sistem tanggal menggunakan agenda tunggal dan agenda
kembar
Cara
mengarsipkan surat sistem tanggal dengan menggunakan buku agenda tunggal
1. Urutkan
surat berdasarkan tanggal surat
2. Catat
kedalam buku agenda tunggal
3. Pisahkan
surat masuk dan keluar
4. Kelompokan
surat berdasarkan tahun, bulan, dan tanggal surat
5. Susun
surat berdasarkan tanggal bulan dan tahun ( terkecil di bawah )
6. Kasih
pembatas setiap kelompok tahun, bulan, dan tanggal ( hvs putih )
7. Tempelkan
multi tab yang sudah bertuliskan kode pada pembatas tersebut
Cara
mengarsipkan surat sitem tanggal menggunakan buku agenda kembar
1. Pisahkan
surat masuk dan keluar
2. Susun
berdasarkan tanggal surat
3. Catat
ke dalam buku agenda kembar
4. Susun
surat berdasarkan tanggal bulan dan tahun ( terkecil di bawah )
5. Kasih
pembatas setiap kelompok tahun, bulan, dan tanggal ( hvs putih )
6. Tempelkan
multi tab yang sudah bertuliskan kode pada pembatas tersebut
Prosedur
penyimpanan dan penemuan kembali arsip secara global
1. Prosedur
penyimpanan warkat ( arsip )
a.
Pengumpulan warkat
Warkat – warkat
yang berasal dari berbagai unit organisasi di kumpulkan pada bagian kearsipan.
b.
Penelitian tanda
pelepas
Suatu warkat,
baru boleh disimpan setelah mendapat tanda pelepas dari pimpinan. Tanda pelepas
itu berupa kata – kata seperti :simpan, aripkan, file, depooner, atau disingkat
Dep = simpan atau paraf dan sejenisnya yang biasa dipakai oleh pimpinan sebagai
bukti tanda pelepas.
c.
Penetapan indeks
Warkat yang
telah mendapat tanda pelepas harus diindeks berdasarkan peraturan yang berlaku
d.
Pemberian kode warkat
Kode warkat
diperlukan sebagai dasar penempatan didalam laci, dibelakang guide di dalam
folder mana suatu warkat akan disimpan.
e.
Penyortiran
Kegiatan memisah
– misahkan warkat berdasarkan kode yang telah ditetapkan.
f.
Penyimpanan dan
penataan
Menaruh atau
menyimpan warkat kedalam folder masing – masing berdasarkan kode abjad yang
telah ditetapkan dan menyusunnya menurut ketentuan yang berlaku
g.
Pemeliharaan,
perawatan, penyiangan, dan pemusnahan arsip menurut peraturan yang berlaku.
2. Prosedur
penemuan kembali arsip ( finding )
a.
Menanyakan jenis arsip
yang disimpan
b.
Menentukan kode
berdasarkan nama yang telah diindeks
c.
Mengambil arsip dari
tempat penyimpanan dan menggantinya dengan lembar pijam arsip ( out slip) bila
yang dipinjam itu lembar arsip. Jika yang dipinjam satu folder maka harus pula dibuatkan
out foldernya.
d.
Menyerahkan arsip
kepada peminjam
*Cara penyimpanan dan
penemuan kembali arsip dalam filling cabinet sistem abjad misalnya sebuah surat
diterima dari langganan Sukri Ahmad diindeks menjadi Ahmad Sukri, setelah
diindeks kodenya adalah A atau Ah. Maka warkat itu dapat disimpan dalam A – Z
di belakang guide A didalam folder A. Jika kodenya dibuat Ah maka warkat itu
dapat disimpan di dalam laci ABC dibelakang guide A di dalam folder Ah atau
didalam laci A dibelakang guide A di dalam folder Ah bagi yang membuat laci –
laci sebanyak abjad ,begitu juga hal nya dalam penemuan kembali arsip.
Cara
mengarsipkan surat dengan sistem masalah menggunakan buku agenda tunggal
1. Susun
surat berdasarkan tanggal surat, kemudian catat pada buku agenda tunggal
2. Buatlah
daftar klasifikasi dengan sistem masalah
3. Pisahkan
surat masuk dan surat keluar
4. Susun
dan kelompokan surat berdasarkan daftar klasifikasi. Setiap kelompok masalah
dibatasi dengan HVS ( pembatas ) dan tempelkan multi tab yang sudah bertuliskan
kode pada pembatas tersebut.
Cara
mengarsipkan surat dengan sistem wilayah
menggunakan buku agenda tunggal
1.
Susun surat berdasarkan
tanggal surat
2.
Catat kedalam buku
agenda tunggal
3.
Buatlah daftar
klasifikasi berdasarkan wilayah
4.
Pisahkan surat masuk
dan surat keluar
5.
Susun dan kelompokan
surat berdasarkan daftar klasifikasi, berilah pembatas pada setiap kelompok
wilayah
6.
Beri kode pada setiap
surat diatas kanan surat ( dipojok )
7.
Tempelkan multi tab
yang sudah diberi kode
Contoh :
Nomor dewey
256.5
Laci 200 urutan
ke 3
Guide 250 urutan
ke 6
Folder 256
urutan ke 7
Surat ke 6
346.8
Laci 300 urutan
ke 4
Guide 340 urutan
ke 5
Folder 346
urutan ke 7
Surat ke 9
Kehilangan
arsip akibat peminjaman yang tidak tertib
Pencarian suatu arsip pada bagian
kearsipan sering mengalami hambatan bahkan sering dijumpai bahwa arsip yang
sedang dicari itu sebenarnya sudah hilang.Hilangnya arsip dapat disebabkan oleh
berbagai maslaah. Yang sering terjadi di lingkungan kantor seperti :
penyimpanan arsip yang tidak teliti, belum dilakukannnya pencatatan arsip yang
diterima atau dikeluarkan dan peminjam yang tidak tertib
Untuk
menghidari hilangnya arsip yang disebabkan oleh peminjaman yang tidak melakukan
administrasi yang tertib, maka petugas kearsipan menyediakan formulir khusus
untuk mencatat arsip yang dipinjam, yang disebut dengan bon pinjam atau out
slip
Bon
pinjam atau out slip adalah sehelai kertas yang berisi keterangan – keterangan
yang dapat digunakan sebagai pengganti warkat atau arsip yang dipinjam.
Oleh
sebab itu bon pinjam ( out slip ) harus ditempatkan pada tempat warkat atau
arsip yang dikeluarkan atau dipinjam. Supaya arsi – arsip yang dipinjam oleh
pihak lain mudah diketahui jumlah dan tempat serta kapan harus dikembalikan
maka petugas arsip harus menempuh langkah – langkah sebagai berikut :
1. Mengisi
bon pinjaman rangkap 3 dan ditandatangani oleh peminjam
Lembar
pertama ( asli ) dijadikan sebagai pengganti arsip yang dipinjamdan ditempatkan
dalam folder yang disebut dengan out slip. Bila dipinjam 1 map, makan map
pengganti arsip yang dipinjam disebut out folder. Begitu juga halnya jika arsip
yang dipinjam tadi ada lagi pihak lain yang akan meminjam maka harus dibuatkan
on call cardnya.
Lembar
kedua diberikan kepada si peminjam
Lembar
ketiga dijadikan sebagai bukti arsip yang dipinjam oleh arsiparis pada unit
kearsipan dan ditempatkan pada berkas peringatan yang disusun berdasarkan
tanggal pengambilan.
2. Petugas
harus memeriksa setiap saat berkas peringatan pada unit kearsipan agar
dikembalikan tepat waktu
3. Pada
waktu pengambilan arsip yang harus diperiksa adalah apakah arsip masih baik
atau rusak, lewat jatuh tempo atau tidak. Bila rusak harus diperbaiki, bila
lewat jatuh tempo peminjam diberi teguran.
4. Menerima
arsip tersebut bersama dengan bon pinjaman
5. Menempatkan
kembali arsip pada tempat penyimpanan semula dan mencabut out slip dari folder
6. Bon
peminjam yang diterima dari si peminjam dan yang dicabut dari folder dapat
dirobek. Sedangkan bon peminjam pada unit kearsipan disimpan sebagai bahan
pertimbangan untuk menilai arsip pasif atau semi aktif.
Bon
pinjam arsip (out slip)
Tanggal
:
1. Kode
arsip
2. Nomor
surat
3. Tanggal
surat
4. Hal
surat
5. Nama
peminjam
6. Bagian
7. Jabatan
8. Lama
pinjam tanggal : sd
tanggal :
Yang
diberikan yang
meminjam
Tanda
tangan tanda tangan
( )
( )
Kembali
tanggal: yang
menerima
Yang
mengembalikan tanda tangan
( ) ( )
BON PINJAM FOLDER ( OUT FOLDER )
Nama
tanggal
kembali
Perihal
tanggal
surat
Diambil
oleh tanggal
diambil
Bagian
paraf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar